Menyumpah di Pagi Hari

15 Jul

Pagi itu adalah minggu kedua aku mengajar di kelas 2 di tahun ajaran yang baru. Aku sedikit lega dengan jumlah murid yang tidak terlalu banyak, hanya 25 anak. Terasa sangat berbeda ketika aku mengajar kelas 4 yang berjumlah hampir 40 anak di tahun ajaran sebelumnya. Setelah 9 bulan mengajar di desa Indong, Halmahera Selatan, aku belajar semakin banyak anak di satu kelas, semakin sulit manajemen kelas.

Meski suasana belajar mengajar berubah, tetapi beberapa hal tidak pernah berubah. Meja dan kursi yang terlalu tinggi bagi anak berumur 6-7 tahun memaksa anak duduk tanpa berpijak lantai tanah yang basah dan lembab dari hujan malam sebelumnya. Beberapa anak yang duduk di sisi Timur dibuat silau matahari pagi yang menembus dinding berlubang yang besarnya lebih besar dari anak yang duduk di sebelahnya. Garis sinar mentari yang menembus atap seng sekolah kami yang bocor di sana-sini menerangi tepat di atas buku tulis tipis “seribuan” yang dibawa anak-anak. Tempat kami belajar masih sama, baik ruang kelas 3 maupun kelas 4. SD Indong masih bertempat di gedung yang sama seperti 50 tahun yang lalu.

Waktu menunjukkan pukul 7.30. Seperti biasa, aku memulai kelas dengan salam dan doa. Dengan aba-aba “Lagu tata tertib, dimulai!” dariku, anak-anak pun dengan semangat menyanyikan lagu kebangsaan sekolah kami. “Aku berkata sopan. Aku berbuat baik. Ku antre. Kudengarkan guru-guru. Buang sampah ditempatnya. Kusayang binatang tanaman. Itulah tata tertib SD kita. SD Indong, YES!” dinyanyikan dengan nada lagu daerah Papua, Apuse. Lagu yang digubah oleh sahabatku Ayu, sesama Pengajar Muda, dengan sukses menjadi lagu terpopuler di desa kami, mengalahkan lagu dari Wali dan Justin Bieber.

Pelajaran hari itu dimulai dengan Bahasa Indonesia. Minggu sebelumnya aku sudah memberikan tugas bagi tiap anak untuk berlatih memperkenalkan diri dengan teks yang sudah aku tulis di papan tulis untuk mereka catat di buku tulis. Anak-anak pun sudah siap dengan buku tulis masing-masing untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Tapi cerita ini bukan bercerita tentang murid-murid kelas 2 berlatih kepercayaan diri di depan kelas, tapi mengenai murid-murid kelas 3 di kelas sebelah.

Kelas 3 terdiri dari lebih dari 40 anak. Kelas 2 dan kelas 3 hanya dipisahkan oleh beberapa lembar papan, membuat lubang di sebelah kiri bawah dan jalan tak berpintu di kanan. Dapat dikatakan dua kelas ini adalah sebenarnya satu kelas besar yang dibatasi oleh dinding semipermeabel yang berlubang di kiri kanannya, dengan sukses menghantarkan suara keributan dan dengan bebas membuka lalu lintas keluar masuk anak-anak kelas 3 ke kelas 2.

Suara perkenalan diri murid-murid kelas 2 semakin tenggelam oleh suara keributan kelas sebelah. Pelajaran semakin tidak kondusif. Sudah setengah jam keadaan ini berlangsung. Akhirnya aku meminta murid kelas 2 untuk berlatih memperkenalkan diri kembali di meja masing-masing, sementara aku mencoba menenangkan kelas sebelah.

Pemandangan yang kutemukan di muka pintu membuatku membuang nafas panjang. Anak-anak kelas 3 berlarian kesana kemari, berbicara, berteriak, dan membuat keributan. Kulihat meja guru tak berpenghuni. Tapi di atas meja sudah terbuka buku PPKN dan di papan tulis sudah tertulis beberapa tulisan spidol.

Kucoba menenangkan dengan sinyal sederhana “Hai – Halo” yang sudah kuajarkan pada semua kelas tahun ajaran yang lalu. Ketika guru berteriak “Hai!” maka seluruh murid harus berteriak “Halo!” dan sebaliknya.

“Hai!” teriakku, sambil berjalan ke depan kelas.

“Halo!” beberapa anak yang duduk di meja depan menjawab, sedangkan yang lain berlarian mencari tempat duduknya.

Kuambil nafas lebih banyak. “Halo!” teriakku lebih keras.

“Hai!” lebih banyak anak menjawab, dan hampir semua anak sudah duduk dan menghadap ke depan. Suara-suara mulai berkurang, meski masih ada beberapa anak yang mengobrol di belakang dan ada anak yang menggambar di pojok depan.

“Mana Ibu Fadlia?” tanyaku menelisik.

“Ibu pigi[1] ke ruang kepala sekolah Pa,” jawab seorang anak yang duduk di meja depan.

Aku paham anak-anak ini pasti akan selalu mengeluarkan energi terpendamnya ketika dibebaskan dari wali kelas mereka yang biasa mengayunkan rotan ketika mengajar pergi untuk bercengkrama dengan kepala sekolah di ruang guru.

Aku mencari akal untuk membuat mereka tenang. Kulihat tulian spidol yang dibuat Bu tuFadlia di papan tulis.

“SUMPAH PEMUDA. Jakarta, 28 Oktober 1928.”

Aku tersenyum. Kupikir mataku pasti berbinar saat itu. Ide itu muncul begitu saja. Rencana sudah di kepala, tinggal menjalankan saja di kelas. “Mari bermain,” pikirku.

—————————————————————————————————————-

“Ada yang tahu apa itu Sumpah Pemuda?” tanyaku memulai di depan kelas. Hening. Anak-anak hanya celingukan, saling menatap.

“Pertanyaan yang salah,” pikirku.

“Sekarang Pa akan ajak ngoni[2] pigi ke masa lalu. Ke tahun 1928,” ucapku. Masih hening Tapi beberapa anak sudah terlihat penasaran.

“Tutup mata ngoni.” Anak-anak semakin penasaran. Semua anak langsung menutup mata sambil tersenyum.

“Bayangkan ngoni adalah pemuda pemudi Indonesia. Ngoni saat ini hidup di tahun 1928, di zaman kakek nenek ngoni hidup dulu. Saat ini, Belanda masih menjajah bangsa Indonesia. Ada yang tahu rasanya dijajah?” tanyaku.

“Bayangkan ngoni su kerja tanam kopra lama, lalu angkut kopra dari kebun ke kapal untuk dijual, tapi ngoni tidak dibayar oleh yang ambil kopra. Bagaimana rasanya?” kataku dengan suara lirih.

“Kesal Pa!” jawab satu anak. “Sedih Pa!” jawab anak yang lain.

“Itulah rasanya dijajah. Bangsa Indonesia sudah dijajah selama lebih dari 300 tahun. Dari zaman kakeknya kakek kita. Bayangkan!” seruku. Wajah anak-anak semakin tertarik.

“Apakah mau ngoni dijajah terus?” tanyaku setengah berteriak.

“Tidak!” seru mereka kompak.

“Apakah mau ngoni sedih terus?”

“Tidaak!”

“Apakah mau ngoni kesal terus?”

“Tidaak Paa!”

“Sekarang buka mata ngoni!” perintahku. Segera mereka membuka mata. Seringai tetap terkembang di wajah mereka.

“Sekarang semuanya berdiri dan berbaris di lapangan bendera.” Seruku bersemangat. Tanpa disuruh dua kali, semua anak-anak berdiri dan berlarian ke lapangan di luar kelas sambil berteriak kegirangan. Aku berjalan mengikuti di belakang mereka.

“Sekarang semuanya berbaris. Bentuk 6 barisan. Pa hitung sampai 10, semua sudah berbaris rapih! Satuu…” anak-anak segera berlarian membentuk barisan. Sambil menghitung, aku mengambil dahan kayu di bawah pohon. Di tanah lapangan bendera yang berpasir, aku goreskan bentuk pulau-pulau besar Indonesia dengan dahan kayu tadi; pulau Sumatera, pulau Jawa, pulau Kalimantan, pulau Sulawesi, pulau Halmahera, dan pulau Papua.

Selesai menghitung, aku melihat anak-anak sudah berbaris dengan rapih. Laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, masing-masing 3 barisan.

“Sekarang Pa akan menamakan kelompok kalian.”

Ngoni adalah suku Sumatera,” tunjukku pada baris paling kiri. Serentak mereka berdesah “Weis!” sambil tersenyum.

Ngoni adalah suku Jawa,” tunjukku pada baris sebelah kanannya. “Ngoni suku Kalimantan, ngoni suku Sulawesi, ngoni suku Maluku,” tunjukku berurutan ke kelompok sebelahnya. Reaksi mereka sama. Wajah mereka semakin bersemangat.

“Dan ngoni adalah suku Papua,” tunjukku pada baris paling kanan. Sontak kelompok lain tertawa, sedangkan anak-anak kelompok terakhir ini tersipu malu, menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum.

“Suku ngoni semua berbeda. Apakah bahasa ngoni berbeda?” tanyaku. Mereka masih terdiam.

“Apa bahasa Makian sama dengan bahasa Galela?” tanyaku. Suku Makian dan suku Galela adalah dua suku Maluku mayoritas di desa Indong.

“Beda Pa!” jawab mereka.

“Apa bahasa Jawa sama dengan bahasa Papua?” tanyaku lagi.

“Beda Pa!” jawab mereka lagi.

“Bagus. Berarti bahasa tiap suku ber…” tanyaku.

“Berbeda Pa!” jawab mereka.

“Bagus. Apakah tempat tinggal ngoni berbeda?” tanyaku lagi.

“Beda Pa!” jawab mereka langsung.

“Ya benar. Tempat tinggal tiap suku berbeda. Di mana suku Jawa tinggal?” tanyaku.

“Di pulau Jawa, Pa!” seru mereka.

“Benar!” jawabku. Aku berjalan ke arah goresan bentuk pulau-pulau di atas tanah berpasir. “Ini adalah tempat tinggal ngoni. Yang paling kiri adalah pulau Sumatera,” tunjukku ke goresan pulau panjang paling kiri. “Di bawah ada pulau Jawa, diatasnya ada pulau Kalimantan, sebelahnya ada pulau Sulawesi, sebelahnya ada kepulauan Maluku, dan di paling kanan ada pulau Papua,” kataku sambil menunjuk semua pulau dengan dahan kayu.

“Tugas ngoni berikutnya adalah segera pindah ke pulau masing-masing. Dalam 5 hitungan semua sudah pindah. Yang tertinggal akan dimakan buaya!” seruku sambil mengangkat tangan kanan membentuk capit sambil menggertakkan gigi. Sontak mereka semua tertawa.

“Mulai! Satuu..” Segera semua anak berlarian memasuki wilayah pulau masing-masing. Ada yang berlarian berpindah-pindah pulau. Ada yang mendorong temannya keluar dari pulau sambil bercanda. Belum sampai hitungan lima, semua kelompok sudah berada di pulaunya masing-masing.

“Ya, bagus. Sekarang lihatlah. Setiap suku berbeda pulau. Ada apa diantara pulau?” tanyaku.

“Ada buaya Pa!” jawab satu anak. Aku terkikik sendiri.

“Ya, benar!” jawabku sambil menahan tawa. “Buayanya tinggal di mana?” tanyaku.

“Di laut Pa!” jawab mereka berbarengan. “Ya, benar!” jawabku. Aku sempat berpikir sebenarnya kebanyakan buaya hidup di sungai atau rawa, tapi bukan itu inti pelajaran hari ini.

“Ada laut yang memisahkan semua pulau. Jadi semua suku terpisah jauh. Susah untuk bertemu. Susah untuk ngobrol. Susah untuk berteman,” jelasku di tengah lapangan. Anak-anak memperhatikan dengan seksama.

“Sekarang bayangkan Belanda ada di setiap pulau. Belanda menjajah semua suku di semua pulau. Jumlah tentara Belanda lebih banyak dari ngoni. Apa yang harus ngoni lakukan?” tanyaku bersemangat. Anak-anak terlihat antusias berpikir, tapi masih belum bisa memberikan jawaban.

“Belanda ada banyak. Ngoni juga ada banyak, tapi ngoni terpisah-pisah. Ngoni harus bagaimana?” tanyaku memberikan petunjuk.

“Harus bergabung, Pa!” teriak seorang anak di pulau Kalimantan.

“Ya, benar! Ngoni harus bergabung. Ngoni harus bersatu. Bagaimana caranya?” tanyaku kembali. Mereka terlihat kebingungan.

Pa bantu. Sekarang pa kase[3] ngoni kapal. Semua suku dapat satu kapal. Jadi bisa pergi ke pulau lain tanpa digigit buaya.” Jelasku.

“Mau pergi ke mana ngoni? Ingat ngoni harus bersatu. Jadi ngoni harus apa?” tanyaku.

“Harus berkumpul Pa!” jawab seorang anak.

“Bagus. Berkumpul di mana?” tanyaku.

“Di Indong Pa” jawab anak yang lain. Aku tersenyum.

“Desa Indong tidak cukup, sayang, untuk menampung ngoni semua,” jelasku. “Kota apa yang paling besar di Indonesia?” sambungku.

“Jakarta Pa!” beberapa anak menjawab sekaligus.

“Ya, Jakarta! Bagaimana kalau ngoni semua berkumpul di Jakarta?” tanyaku.

“Iya Pa!” jawab mereka bersemangat.

“Oke, sekarang ngoni akan naik kapal ke Jakarta. Dalam 10 hitungan, ngoni semua sudah berbaris rapih seperti tadi. Buat 6 baris, tetapi dalam satu kelompok harus ada semua suku, jadi harus dicampur. Siap? Satuu..” seruku.

Anak-anak kembali berlarian membentuk barisan. Ternyata mereka masih belum terlalu mengerti maskud dari semua suku harus ada dalam satu kelompok sehingga aku harus membantu merapihkan barisan. Sambil menghitung dan merapihkan, ada 2 anak lelaki yang terlihat asyik mengganggu teman-temannya. Sampai hitungan 10, ternyata 2 anak tersebut masih bermain.

“Sepuluh! Ya selesai, ngoni berdua maju ke depan!” perintahku pada dua anak lelaki tersebut. Sedikit kaget, dengan lunglai mereka berdua maju ke depan. Kubariskan mereka berdua berdiri di depan kelompok yang lain.

“Nah, karena ngoni berdua tidak mau ikut bersatu dan bekerja sama dengan suku-suku lain, pa ubah tugas ngoni. Sekarang ngoni berdua menjadi Belanda yang menjajah,” jelasku. Anak-anak yang sudah berbaris tertawa dan berteriak “Yeiiiiy!” Dua anak tadi hanya tersipu malu sambil menggaruk-garuk kepala.

“Nah, sekarang ngoni semua sudah berkumpul di Jakarta,” lanjutku. “Ngoni tidak lagi bergabung menurut suku di pulau yang terpisah, tapi sudah bercampur di Jakarta. Suku jawa sudah bergabung bersama suku Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Semua suku sudah bersatu menjadi satu bangsa, yaitu bangsa….” tanyaku.

“Bangsa Indonesiaaa..!!” jawab anak-anak serentak.

“Ya, benar! Coba pa tanya. Kalau sudah bergabung dan bersatu, apa bisa bahasanya berbeda? Apa bisa suku Jawa berbahasa Jawa dengan suku Kalimantan?” tanyaku kembali.

“Tidak Pa!” jawab mereka.

“Kalau begitu harus pakai bahasa apa sayang?” selidikku.

“Bahasa Indonesia!” teriak seorang anak.

“Ya, pintar! Kita harus pakai Bahasa Indonesia. Bahasa yang dipakai semua suku di Indonesia. Supaya suku Sumatera bisa ngobrol enak dengan suku Sulawesi, suku Papua bisa berteman dengan suku Maluku,” jelasku. “Lalu sekarang kalian apakah masih di pulau yang terpisah-pisah?” tanyaku kembali.

“Tidak Pa!” jawab mereka.

“Di mana ngoni sekarang? Di tanah apa?” selidikku.

“Di Jakarta Pa!” teriak seorang anak.

“Ya, di Jakarta. Jakarta itu ada di mana?” selidikku kembali.

“Di Jawa Pa!” teriak anak yang lain.

“Benar di Jawa. Tapi ingat, ngoni tidak lagi terpisah-pisah. Ngoni sudah bersatu. Jangan lagi ngoni sebut tanah ngoni tanah Jawa, tanah Sumatera, atau tanah Maluku. Tapi sebut sebagai tanah apa?” tanyaku.

“Tanah Indonesia Pa!” teriak beberapa anak sekaligus.

“Ya, tepat sekali! Ngoni sudah tidak lagi terpisah. Ngoni sudah bersatu. Tanahnya juga satu. Disebut tanah air Indonesia. Tanah tumpah darah Indonesia. Apa maksud dari tumpah darah?” tanyaku. Hening, tiada yang menjawab.

“Kalau ngoni terluka, lalu kulit ngoni berdarah. Darahnya tumpah ke mana?” selidikku.

“Tumpah ke tanah Pa!” jawab semuanya.

“Ya, betul. Begitu juga para pahlawan yang berjuang melawan penjajah. Mereka maju berperang, terluka dan tewas ditembak demi kemerdekaan Indonesia, semua darah mereka tumpah ke tanah. Karena itu tanah Indonesia, tanah kita semua, disebut tumpah darah Indonesia,” jelasku. Beberapa anak-anak mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang semua suku sudah berkumpul di Jakarta. Sekarang tanggal 28 bulan Oktober tahun 1928. Tanggal berapa sekarang?” tanyaku mengingatkan.

“Tanggal 28!” jawab mereka serentak.

“Bulan apa?”

“Bulan Oktober!”

“Tahun berapa?”

“Tahun 1928!”

“Bagus. Semua pemuda pemudi Indonesia dari seluruh pulau, berkumpul di Jakarta tanggal 28 bulan Oktober tahun 1928. Mau apa ngoni semua?” wajah mereka antusias berpikir.

“Lihat dua orang teman ngoni di depan. Siapa mereka?” tanyaku.

“Belanda Pa!” jawab mereka sekaligus.

“Ya. Ingat kalian masih dijajah. Kalian berkumpul untuk bersatu melawan penjajah. Tunjukkan rasa persatuan ngoni dengan bersumpah. Namanya sumpah apa?” tanyaku.

“Sumpah Pemudaa!” jawab mereka semua serentak.

“Ya, benar. Sekarang semua letakkan tangan kanan di atas dada. Ikuti kata-kata Pa.” Serentak semua anak meletakkan tangan kanan di atas dada.

“Sumpah Pemuda. Satu. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Dua. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Tiga. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Merdeka!” Teriakku dengan mantap mengepalkan tangan ke udara diikuti oleh anak-anak.

“Sekali lagi,” kuteriakkan sumpah pemuda kembali diikuti anak-anak. Suasana sangat khidmat. Tidak ada yang bermain-main.

“Sekarang ngoni sudah bersatu, siap melawan penjajah. Pa ingin lihat semangat ngoni melawan Belanda. Lihat kedua teman ngoni di depan,” kataku. Dua anak yang berdiri sontak kaget.

“Tunjukkan pada Belanda kalau semua sudah bersatu dan siap berperang. Angkat senjata ngoni semua,” perintahku sambil memperagakan memegang senapan dengan tangan. Anak-anak mengikuti dengan bersemangat.

“Siap..,” perintahku sambil mendekatkan tangan ke kepala sambil memicingkan mata. Kedua anak tadi terlihat sudah bersiap untuk berlari.

“Tembak!” teriakku. Serentak dua anak tadi berlari ke luar sekolah. Tak disangka-sangka semua anak yang lain ikut berlarian mengejar mereka ke luar sekolah.

“Tembak! Kejar!” teriak mereka.

“Lho, tunggu! Jangan lari!” teriakku kebingungan. “Astagaaa..,” lirihku lemah sambil menutup mataku dengan telapak tangan.

Terlambat. Mereka semua sudah berlarian, seperti warga desa mengejar maling ayam. Sedangkan aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala di lapangan. Aku hanya bisa melihat anak-anakku berlarian mengelilingi sekolah. Membuang napas panjang, aku kembali ke kelas 2. Kembali ke kelasku menemani murid-murid kelas 2 yang sedari tadi menanti di daun pintu ruang kelas 2. Kembali mengajar cara memperkenalkan diri yang baik. Menunggu para pejuang cilikku kembali dari medan perang.

 


[1] Pigi berarti pergi dalam bahasa pasar Maluku.

[2] Ngoni berarti kalian dalam bahasa pasar Maluku.

[3] Kase berarti kasih atau beri dalam bahasa pasar Maluku

Advertisements

Tahun baru di desa, tahun baru di kota, apa yang baru?

7 Jan

Setiap tahun baru menjelang, Jakarta pun menggeliat. Midnight Sale mulai menjamur di setiap mall. Jalanan macet menjadi langganan di sekitar Monas, Kemang, dan titik pesta lain. Kios kembang api dan terompet berjejeran di pinggir jalan.

Samentara bagi kaula muda mulai berencana apa yang akan dilakukan di new year’s eve nanti. Apakah buka kamar di Hotel Marriot? Apakah berlibur pantai di Bali-Lombok? Atau berlibur belanja di Singapura? Akhir tahun 2011 di Jakarta tidak ada ubahnya seperti tahun-tahun sebelumnya.

Namun bagiku, ada yang berbeda tahun ini. Aku punya kesempatan untuk membandingkan apa beda tahun baru di Jakarta dan di desa Indong, Halmahera Selatan, tempatku mengajar selama setahun kemarin.

Di Indong, tidak ada ledakan kembang api bertubi-tubi di udara. Tidak ada raungan klakson mobil tanda jam 12 malam pergantian tahun (lebih tepatnya tidak ada mobil sama sekali). Di Indong, bahkan tidak ada lampu dan TV yang menyala di tiap rumah. Keluarga yang ingin menonton acara tahun baru harus mengungsi ke rumah yang ada TV, parabola dan genset. Ini karena tidak ada jaringan PLN di desaku.

Ketika kuingat kembali, saat pergantian tahun, aku berbaring di tempat tidur di kamarku yang beralas tanah. Tanpa cahaya sedikitpun selain dari layar handphone. Tidak ada suara keramaian di luar. Hanya samar-samar house musik Maluku dan petasan di luar.

Namun di kegelapan dan kesunyian itu, aku mendapat kesempatan untuk berkontemplasi. Akhir tahun 2009, aku menikmati kembang api bersama teman-teman di cafe dari atas kota Bandung. Akhir tahun 2010, aku menikmati kesendirian di desa pinggir pantai di pojok kepulauan Halmahera Selatan.

Namun, justru di 2010 aku merasa lebih menikmati menjadi diri sendiri. Kenikmatan ketika tahu dirimu meninggalkan hiruk pikuk kota dengan polusi dan kemacetannya, memasuki sepinya desa yang segar udaranya dan indah pemandangannya. Kenikmatan ketika dirimu berjalan di desa, dan selalu ada anak-anak yang mengekor ke manapun kau pergi.

Kenikmatan ketika kau memberikan buku kepada seorang anak, dan anak tersebut menerimanya dengan binar mata antusias dan senyum merekah, seperti baru pertama kali membaca buku. Nikmatnya mengakhiri tahun 2010, karena kau tahu akan memulai tahun 2011 dengan menjalankan resolusi tahun barumu. Resolusimu bukan lagi menjadi cita-cita, tapi keniscayaan.

1 Januari 2011, Indong. Hari itu berjalan biasa seperti hari-hari lainnya. Anak-anak bermain di jalanan setapak dan berenang di dermaga desa seperti biasa. Aku mengajak mereka membaca di rumah seperti biasa. Rumah ramai dengan anak-anak seperti biasa. Tidak ada euphoria akan tahun baru. Hanya hari libur biasa.

1 Januari 2012, Jakarta. Hari ini aku teringat desa yang kutinggalkan. Aku menjawab beberapa SMS ucapan selamat tahun baru dari guru dan muridku di desa. Aku memantapkan diri akan menulis surat untuk anak-anakku di sana. Menyampaikan selamat tahun baru. Mendoakan yang terbaik untuk mereka. Menanyakan di tahun baru, apa yang baru di desa Indong?

Bagaimana dengan tahun barumu? Ada yang baru?

 

– Tulisan ini juga dimuat di blog Berita Satu : http://www.beritasatu.com/blog/lifestyle/1278-keheningan-pergantian-tahun-di-desa-indong.html

Mari Berlibur ke Halmahera! – how to get here

21 Jun

“Libur telah tiba! Libur telah tiba! Hore! Hore! Hore!” – Tasya, penyanyi cilik (tidak begitu cilik lagi sekarang)

Libur sekolah telah tiba. Sekarang saatnya rehat sejenak dari rutinitas mengajar di SD Indong.
Bagi teman-teman yang masih belum tahu ingin liburan di mana, cobalah berlibur kemari, kepulauan Maluku Utara.

Atas request beberapa teman2, berikut adalah petunjuk bagaimana mencapai Desa Indong, kecamatan Mandioli Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara.

1) Jakarta – Ternate, Maluku Utara:

Paling cepat dicapai dengan menggunakan pesawat. Beberapa airlines yang beroperasi adalah: Garuda Indonesia, Sriwijaya, Batavia, Lion dan Express. Harga tiket PP berkisar 1,4jt – 3jt.
Di Ternate sendiri banyak objek wisata yang memukau. Pulau Morotai, yang diabadikan di tiap lembar uang seribu rupiah. Pantai Sulamadaha, pantai yang indah di sisi lain pulau Ternate. Danau Tolire, dengan pemandangan Gunung Gamalama yang luar biasa indah. Benteng Toluko, benteng peninggalan Portugis. Dan masih banyak lagi.

Pemandangan kota ternate dari Benteng Toluko

Pemandangan kota ternate dari Benteng Toluko

2) Ternate – Pulau Bacan, Halmahera Selatan

Paling cepat dicapai dengan menggunakan pesawat kecil. Beberapa airlines yang beroperasi adalah : Express, Merpati, dan NBA. Harga tiket one way berkisar 150rb – 350 rb.
Tapi kalau belum pernah naik kapal, mungkin lebih baik merasakan pengalaman menginap di kapal. Berangkat dari pelabuhan Bastiong – Ternate, ke pelabuhan Babang – Pulau Bacan. Harga tiket Rp 100rb jika ingin menginap di dek bersama penumpang lain, atau Rp 250rb jika ingin mengindap di kabin. Kapal berangkat sekitar jam 8 malam dan sampai sekitar jam 5 pagi.

3) Pelabuhan Babang – Kota Labuha, Pulau Bacan

Sesampainya di pelabuhan Babang, carilah Otto (angkutan umum seperti mikrolet) ke arah kota Labuha. Tarif untuk 1 orang adalah Rp 10rb. Kalau Otto habis, bisa naik ojek (motor) dengan tarif Rp 20rb. Perjalanan dari pelabuhan sampai kota sekitar 30 menit.
Di kota teman-teman bisa beristirahat sejenak di hotel. Ada banyak pilihan hotel di kota. Bagi kami para Pengajar Muda Halsel, ada 1 rumah yang kami gunakan sebagai basecamp di Desa Mandaong.

4) Kota Labuha – Desa Indong, Pulau Mandioli

Untuk mencapai Desa Indong, hanya bisa menggunakan kapal motor penumpang yang akan berangkat dari pelabuhan lama di kota Labuha. Jadwal keberangkatan hanya ada di hari Senin, Rabu, Kamis, Sabtu pukul 12 siang. Biaya tiket one way adalah Rp 20rb. Perjalanan dari pelabuhan sampai desa sekitar 1,5-2jam.
Penduduk Desa Indong kurang lebih sebanyak 1.300 jiwa, sekitar 300 KK. Teman2 bisa menginap di rumahku, rumah dinas guru, atau juga di rumah kepala desa atau rumah penduduk lain. Teman2 hanya perlu membayar uang makan dan uang menginap sekadarnya. Akanlebih baik lagi jika teman2 membawa bahan makanan dari kota.

Keindahan sunset di darmaga Desa Indong. The best view of my life. :)

Keindahan sunset di darmaga Desa Indong. The best view of my life. 🙂

Semoga petunjuk di atas bias banyak membantu. Jika masih ada yang ingin ditanyakan bias langsung email saja ke adi.pradana@pengajarmuda.org

Aku sendiri berencana untuk “tour de Maluku” liburan ini. Melancong sampai ke ujung utara Maluku. Berangkat dari pulau Bacan, berjalan sampai pulau Ternate, Jailolo (Halmahera), Tobelo (Halmahera), pulau Morotai dan pulau Kayoa. Anyone interested? You are more than welcome to join the trip. 🙂

Selamat Berlibur!

Dermaga lama, pulau Ambatu, dekat Pulau Mandioli. Bersiap untuk "betobo" (red. berenang)

Dermaga lama, pulau Ambatu, dekat Pulau Mandioli. Bersiap untuk "betobo" (red. berenang)

Salam hangat dari Halmahera!

UAN: Untuk Apa Nyontek?

21 May

Masih ingatkah kamu ketika menjalani Ujian Akhir Nasional SD dahulu?

Pada zamanku, di tahun 1998, ujian nasional SD masih disebut EBTANAS, Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Aku mengerjakan soal-soal EBTANAS di ruang kelas SDN Yapis I Jayapura, Irian Jaya. Sekolah di dasar lembah di pinggir kota.

Aku masih bisa mengingat, betapa aku was-was menghadapinya. Semua komik kesukaanku sudah disembunyikan oleh orang tuaku supaya aku bisa belajar dengan baik. Tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa berdoa. Di hari ujian pun aku gugup dan takut sekali, takut tidak mengerti soal, dan takut salah menjawab.

Kawan-kawan sekelaskupun begitu. Beberapa anak terlihat bingung dan berusaha mencari jawaban, entah berusaha mengingat atau bertanya. Tapi kami semua takut ketahuan mencontek. Kami tidak ingin tidak lulus SD karena ketahuan mencontek.

Aku tak mengira akan kembali merasakan ujian nasional SD di Indonesia Timur, hanya berbeda pulau. Bedanya adalah aku bukan yang anak mengerjakan soal, tetapi sebagai guru yang membimbing anak itu. Meski ruangan, meja, kursi, pensil, kertas soal dan kertas jawaban tidak begitu berbeda, tapi mengapa bisa begitu berbeda dalam kenyataan.

Setiap ujian nasional, murid-murid kelas 6 SD dari 5 desa di pulauku datang ke desa Indong untuk melaksanakan UAN. Mereka datang bersama kepala sekolah, guru dan orang tua mereka. Kepala sekolah dan guru akan menjadi panitia dan pengawas ujian, sedangkan para orang tua menyiapkan makanan untuk semuanya.

Ada yang berbeda dari tingkah anak-anak itu dengan tingkah lakuku dulu sehari sebelum ujian berlangsung. Tidak ada kecemasan. Tidak ada anak yang sibuk belajar di kamar. Kebanyakan berjalan2 keliling desa dan bercanda. Termasuk anak-anak desaku. Anak kelas 6 SD Indong selama 1 bulan terahkhir sudah mendapatkan pelajaran tambahan dari wali kelasnya sebagai persiapan ujian. Tapi mengapa mereka bisa terlihat begitu santai? Jawabannya kutemukan di hari ujian.

Aku datang ke sekolah bukan sebagai panitia atau pengawas, sayangnya aku tidak diikutsertakan dalam kepengurusan UAN ini. Aku datang hanya untuk melihat-lihat, membantu menulis berita acara dan mengambil gambar dengan kamera. Namun karena itulah aku bisa melihat banyak hal.
Sepintas semua berjalan tertib dan lancar. Selama 3 hari ujian berlangsung tenang. Setiap guru menjalankan tugas mengawas dengan baik. Benarkah begitu?

Sejak hari pertama, aku melihat beberapa anak dapat dengan bebas mengobrol selama ujian berlangsung, bahkan saling melihat kertas jawaban masing-masing. Guru pengawasnya? Duduk diam di depan kelas, menulis berita acara, mengerjakan soal ujian, atau sekedar melihat HP.

Aku melihat guru-guru lain berpatroli dari kelas ke kelas memeriksa hasil jawaban anak-anak, dan berkata “yang ini C,” “yang ini A.” Aku mendengar dari beberapa anak kalau bahkan ada beberapa guru pengawas yang memberikan kertas kecil berisi jawaban dari soal nomor 1-27.

Aku melihat banyak anak yang tidak menandai jawaban di kertas jawaban. Ketika aku tanya mengapa mereka tidak mengisi, mereka menjawab “Kata Bu/Pak A , kalau su tara bisa jawab kase kosong saja.”

Selesai ujian aku melihat para guru sibuk “bersembunyi” di kelas mengisi kertas jawaban anak-anak. Bahkan ada yang anak-anak peserta ujian dipanggil kembali ke sekolah dengan membawa pensil 2B untuk mengulang mengisi kertas jawaban komputer dengan jawaban yang sudah disediakan.

Anak-anak itu tidak mencontek ketika mengobrol di ujian. Mereka tahu mereka tidak perlu mencontek.Karena jawaban akan segera diberikan sebentar lagi.

Apa yang bisa kulakukan? Lapor kepada pemerintah? Para pejabat pemerintah semua ada di sana, dari Camat, Kepala UPTD sampai staf-stafnya. Mereka sibuk bermain domino di bawah pohon dekat sekolah.

Fenomena ini sudah menjadi tradisi sejak zaman kakek-nenek mereka. Mungkin orang tua dari anak-anak, bahkan guru dan kepala sekolahnya pun pada waktu kelas 6 SD juga melakukan hal yang sama. Budaya ini didukung oleh segenap guru, kepala sekolah, masyarakat dan istansi pemerintah.

Aku bertanya pada beberapa guru dan staf, kebanyakan mengelak pertanyaan itu. “Kita cuma memeriksa dan mengkoreksi biodata yang salah” sudah menjadi standar jawaban.

Aku bertanya pada salah seorang mantan kepala sekolah yang menjadi pengawas. Paling tidak beliau menjawab jujur “Kalau tidak lulus, masyarakat akan marah.”

Aku hanya bisa bertanya pada anak-anak. Mereka akan dengan jujur dan polos menceritakan kembali semuanya tanpa perasaan bersalah. Seperti itulah UAN yang mereka tahu sejak dulu. Seperti itulah ujian yang diceritakan kakak kelas, orang tua dan guru-guru mereka.

Karena itulah mereka tetap santai sebelum UAN, ujian yang seharusnya menentukan nasib mereka setelah 6 tahun belajar. Karena itulah mereka tidak belajar dan tidak berusaha untuk lulus, mereka pasti akan diluluskan. Lalu untuk apa mereka mendapatkan les persiapan ujian? Mungkin lebih tepatnya, untuk apa uang les itu digunakan?

Karena itulah masih ada beberapa anak kelas 6 yang masih sulit membaca dan menulis. Sejak kelas 1, mereka tetap naik kelas meski sebenarnya “belum boleh” naik kelas. Para guru tetap menaikkan mereka karena “takut masyarakat marah.”

Karena itulah murid-murid SMP dan SMK sekarang menganggap remeh pelajaran dan ujian, pengalaman mereka waktu SD membuat mereka berpikir kalau mereka pasti akan lulus meski tidak belajar.

Karena itulah banyak lulusan SMA yang menganggur. Untuk apa berkuliah? Dua belas tahun bersekolah tidak belajar apa-apa.

Karena itulah banyak guru yang tidak mengajar, setahun sekali mereka hanya perlu mengisi jawaban di kertas jawaban muridnya dan selesailah tugas untuk “mendidik” anak murid mereka.

Karena itulah banyak pegawai pemerintah yang korupsi. Sejak kecil mereka tidak mengenal apa itu “Kejujuran” dan “Usaha.” Dan itulah yang mereka ajarkan kembali kepada anak-anak mereka.

Inilah lingkaran setan “pembodohan” yang terjadi di Indonesia, tidak hanya di Maluku, tapi juga di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Inilah wajah pendidikan Indonesia kita tercinta.

Aku bukan malaikat. Aku pun pernah mencontek. Aku pun penuh dosa sejak celanaku masih berwarna merah. Tapi paling tidak aku tahu kalau mencontek itu salah. Kalau kita harus jujur. Kalau ketahuan mencontek, kita akan mendapat hukuman. Kalau sebelum ujian harus belajar. Jika tidak belajar, nilai akan jelek. Kalau nilai jelek, bisa tidak naik kelas, atau tidak lulus. Kalau kita harus berusaha supaya berhasil.

Rajin pangkal pandai. Hemat pangkal kaya. Sebutkanlah semua kata mutiara itu. Aku diajarkan guru-guruku seperti itu. Aku diajarkan orang tuaku seperti itu. Dulu aku merasa jengah dan malas mendengar mereka, tapi sekarang aku merasa beruntung. Ini adalah etika dan nilai yang seharusnya diwariskan oleh masyarakat kepada anak-anak. Tidak semua anak-anak kita ternyata tidak diajarkan seperti itu. Ini adalah bencana sistemik moral Indonesia.

Apa yang harus kulakukan? Aku sudah mencoba memberikan pandanganku kepada semua pranata pendidikan desa. Saat ini kata-kata itu hanya menjadi angin lalu bagi mereka, sebuah lembaran ya hanya dibaca di buku PPKN. Saat ini aku hanya bisa merubah dari murid-murid kelasku. Aku coba berikan contoh “etika” dan “moral” dari kelas 4, meskipun aku bukan orang yang pantas. Berikut berdoa semoga ketika mereka kelas 6 tidak merasakan hal yang sama. Aku akan mencoba mencari jalan lain. Kalau tidak bisa dari bawah, coba dari tengah, dari kanan, dari kiri, atau dari atas.

Semoga kau memberikan petunjuk kepadaku ya Allah.
Semoga kau menolong bangsaku ini ya Allah.

Anak-Anakku Sang Kepala Angin

13 Feb

Masih ingatkah dengan Abule? Putra Ibu Maryam, mama piaraku dulu, bocah berumur 5 tahun yang terkenal nakal di seluruh desa. Selama 2 bulan aku tinggal di rumah Ibu Maryam, aku hanya berhasil mengajari dia dua hal. Mengucapkan Assalamualaikum ketika masuk kamarku, dan bermain bermacam “bongkar pasang” atau puzzle.

Suatu hari aku sedang mengajar kelas olimpiade. Abule dan Ikra, tetangganya, tiba-tiba masuk kelas.

“Kenapa Abule?”, tanyaku. Ia hanya tersenyum nakal.

Aku menjulurkan tangan, meminta tangannya menggenggam tanganku. Dengan malu-malu dan tertawa ia menggenggam tanganku, diikuti dengan tangan Ikra.

Aku mengajaknya keluar kelas dan berkata “Jangan masuk dulu ya, Pak Adi sedang mengajar”.

“Apa!?” balasnya. Tiba-tiba matanya berbinar, senyum nakalnya merekah, dengan segera ia berlari masuk ke dalam kelas sambil tertawa, berlari kesana-kemari, mengganggu murid-murid yang sedang belajar.

Mulutku ternganga. “Apa yang kubilang salah?” pikirku bingung.

Perilaku seperti ini tidak hanya terlihat pada anak berumur PAUD di desaku.

Salah seorang anak yang ikut serta kelas olimpiade bernama Sahjad Said, biasa dipanggil Awin. Ia duduk di kelas 4 SD, kelas yang aku ajar. Ia anak yang pintar. Tidak ada yang bisa mengalahkan dia dalam minatnya membaca. Hampir setiap hari, siang, sore dan malam, ia datang ke rumah dan membaca segala macam buku yang bisa ia baca. Buku yang paling ia sukai adalah seri ensiklopedi dan pengetahuan alam. Meski tinggi minta membaca, lain halnya dengan minat mencatat, memperhatikan pelajaran, dan mengerjakan PR.

Ketika aku menerangkan pelajaran di kelas, ia selalu mengajak teman sebangkunya mengobrol. Ia selalu menjadi sasaran pertanyaan tentang pelajaran jika aku menangkapnya sedang mengobrol, dan ia selalu menjawabnya hanya dengan senyuman sambil menggaruk-garuk kepala.

Jika aku meminta murid-murid mencatat, dia salah satu yang sulit mencatat. Kecepatannya menulis sangaaat lambat. Bukan karena ia sulit menulis, tetapi karena ia tidak bisa konsentrasi menulis dan lebih banyak mengobrol. Bahkan ketika duduk paling depan dan aku menulis di papan tulis di depannya.

Bagaimana dengan PR? Ia jarang sekali mengerjakan PR. Kalaupun mengerjakan, ia biasanya bohong dan bilang “belum kerja Pak” sambil tersenyum-senyum. Di akhir pelajaran, tiba-tiba ia mengumpulkan PR-nya. Kadang aku tak mengerti mengapa ia melakukannya. Iseng? Ingin melihatku marah? Atau hanya sekedar mencari perhatianku.

Rifalci Kisman, biasa dipanggil Pachi. Firja Tuahons, biasa dipanggil Ija. Dua bocah cilik laki-laki dan perempuan ini adalah saudara sepupu yang duduk di kelasku. Banyak persamaan di antara mereka. Orang tua Pachi 6 hari dalam seminggu tinggal di kebun, meninggalkannya bersama kakak-adiknya di rumah. Ayah Ija tinggal di Sorong, Papua, sedangkan ibunya di Tobelo, Halmahera Timur. Ija tinggal bersama neneknya. Keduanya dicap sebagai anak nakal oleh seluruh penduduk desa. Keduanya sering dipukul di rumah dan di luar rumah karena kenakalannya. Dan aku sendiri telah melihat sendiri seperti apa kenakalan mereka.

Keduanya paling suka memukul dan menjahili temannya di kelas dan di luar kelas. Tidak terhitung berapa jumlah tangisan yang mereka buat. Keduanya tidak pernah mengerjakan PR, meskipun sudah diingatkan dari malam sebelumnya. Keduanya selalu berkata kasar dengan bahasa pasar khas Maluku, mengancam dan mengejek teman-temannya. Aku sungguh sedih bagaimana anak sekecil dan semanis mereka bisa mengeluarkan kata-kata kotor sepert itu. Mereka pasti belajar dari orang-orang di sekitar mereka.

Ija tidak pernah mencatat. Jika diingatkan, ia hanya menunjukkan seringainya yang lebar, sambil menggeleng-gelengkan kepala di atas meja sambil pura-pura menulis. Ketika pelajaran olah raga, ia akan menghindar, berlari dan memanjat pohon di halaman. Ya, memanjat pohon sampai dahan teratas. Itu ia lakukan sambil mengajak teman-temannya yang lain. Ia dengan mudah menjambak anak perempuan lain, bahkan menendang anak laki-laki lain.

Pachi selalu melakukan apapun supaya aku memperhatikannya. Dari berlari-lari di kelas, memukul teman sebangku, berteriak-teriak “Pak! Pak! Pak!” saat aku menjelaskan, apapun. Pernah ia menyembunyikan bendera merah putih saat latihan upacara di rumahnya sehingga aku kebingungan mengganti bendera untuk latihan. Pernah juga ia berbohong kepadaku bahwa ia sudah seminggu tidak makan karena orang tuanya tidak ada sampai aku tercekat dan memberikannya Biskuat.

Sudah berbagai cara aku lakukan untuk membantu mereka “kembali ke jalan yang lurus”. Dari hukuman menulis 2 halaman “Aku berjanji tidak akan lupa mengerjakan PR lagi”, berdiri di pojok kelas menghadap tembok, berlari mengelilingi gedung sekolah, dikeluarkan dari kelas, walkout dari kelas, sampai bicara man-to-man dan man-to-woman dengan mereka, tetapi tidak juga berhasil. Jika mereka berjanji tidak akan mengulangi, mereka akan melakukan hal yang sama keesokan harinya.

Ini adalah sifat khas anak Maluku. Keras Kepala. Penentang. “Nyeleneh” dalam bahasa Jawa. Kalau dalam bahasa pasar Maluku disebut “Pahe” atau “Kepala Angin”. Ketika aku minta sesuatu, mereka akan melakukan hal sebaliknya. Mereka juga ringan tangan. Sedikit-sedikit keluar pukulan dan tendangan. Mereka senang melihatku kebingungan dan berusaha segala cara untuk mencuri perhatianku. Percaya atau tidak, hampir seluruh kelasku memiliki sifat yang sama. Bayangkan betapa lelahnya menghadapi 39 anak dengan sifat seperti itu. Hukuman yang aku berikan biasa dilakukan berjamaah setengah kelas.

Aku tidak menyerah. Aku merasa ini adalah sebuah tantangan. Bagaimana cara terbaik untuk mengajar dan mendidik mereka. Aku selalu mencoba berusaha berpikir seperti mereka. Hidup di rumah tanpa orang tua. Semua orang mencap “anak nakal” dan selalu memukul mereka. Maka tidak heran jika mereka melakukan apa yang anak nakal lakukan. Tidak ada yang melarang di rumah, dan mereka memang yakin mereka sudah ditakdirkan menjadi anak nakal.

Karena itu aku selalu melakukan yang mereka tidak pernah duga. Aku tidak pernah memukul. Aku tidak pernah menyebut kata kasar. Aku selalu memberikan positive reinforcement. “Ngana (kamu) itu anak baik. Jika ngana yakin ngana anak baik, maka ngana pasti bisa jadi baik. Percaya Bapak!”, hal ini selalu kuingatkan pada mereka. Mereka kadang tidak percaya dan malah berkata “Torang (saya) bukan anak baik Pak, tong anak setan!”. Coba dengarkan apa yang mereka ucapkan. Itulah cerminan diri mereka yang dijejalkan oleh orang-orang “dewasa” di sekitar mereka. Kata-kata mereka benar-benar membuat hatiku terenyuh.

Hal lain yang kulakukan adalah mengajarkan lagu gubahan salah seorang teman Pengajar Muda, Ayu.

Aku berkata sopan.

Aku berbuat baik.

Ku Antre. Kudengarkan guru-guru.

Buang sampah di tempatnya.

Kusayang binatang tanaman.

Itulah tata tertib SD kita.

SD Indong, Yes!

Lagu di atas dinyanyikan dengan nada lagu Apuse dan sangat mudah dinyanyikan. Dalam sekejap lagu ini menjadi hit single di desa Indong dan menjalar ke semua anak-anak di desa. Semua anak pasti hafal!

Aku percaya, lambat laun, jika hal ini dilakukan dengan terus menerus dan konsisten, mereka pasti bisa berubah. Yang mereka butuhkan adalah suatu cermin diri dan kepercayaan diri bahwa mereka adalah anak baik dan pasti bisa menjadi anak baik. Mereka butuh orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, kakak, tetangga, dan semua orang “dewasa” berkata “ngana bukan anak nakal, ngana anak baik.”

Lihatlah Awin, Pachi, Ija, dan semua murid-murid kelas 4 dan anak-anak desa Indong. Pak Adi tidak peduli meski setiap hari keluar kelas dengan keringat bercucuran dan suara serak! Pak Adi masih punya banyak jurus sakti mandraguna untuk menghadapi kalian! Meski kalian “Kepala Angin”, tetapi “angin” yang kalian hembuskan pasti nantinya akan menyejukkan hatiku dan juga hati seluruh penduduk desa Indong. Cap anak nakal itu pasti akan kuhilangkan! Pasti!

Laskar Penyanyi

16 Jan

30 Desember 2010, Indong

“Allahuakbar Allaaaahuakbar..”

Adzan subuh membangunkanku dari tidurku. “Wah, sudah jam 5,” pikirku. Aku terbangun di kasur berkelambuku, di antara tumpukan 38 buku raport merah milik para siswa kelas 4, emergency lamp, dan laptop. Spidol hitam dan merah masih berada di genggamanku. Semalaman aku bergadang sampai jam 2 pagi untuk mengisi laporan pendidikan seluruh siswa kelas 4 SDN Indong.

Setelah selesai mengisi semua raport, aku segera berangkat ke sekolah. Aku bisa mendengar pengumuman dari TOA masjid. “Bapak Ibu Wali Murid SDN Indong yang tercinta, hari ini akan dibagian laporan pendidikan untuk seluruh siswa kelas 1 – 6. Untuk itu diharapkan kehadirannya di sekolah pada pukul 8. Pengumuman ini bersifat undangan. Terima kasih atas perhatiannya.”

Sesampainya di gedung baru SDN Indong, aku melihat kelas 5 dan 6 sudah disulap menjadi tempat pertemuan orang tua murid. Puluhan meja dan kursi sudah tersusun rapih. Di depan kelas sudah disiapkan 4 meja memanjang untuk tempat duduk guru. Aku kemudian masuk ke ruang guru, di mana semua guru kelas sudah hadir. Pak Anwar, guru kelas 1, Pak Ramli, guru kelas 5, dan Pak Hajuan, guru kelas 6 sedang mendiskusikan susunan acara nanti.

Entah dari mana ide itu datang. Aku segera mengajukan satu acara tambahan. “Pak, bagaimana kalau kelas 4 memberikan persembahan kepada orang tua siswa?” Kebetulan mereka pernah aku ajari lagu Terima Kasih Guruku yang dipopulerkan oleh AFI Junior. Serentak, para guru setuju.

Aku segera mulai bekerja. Aku keluar untuk memanggil beberapa siswa kelas 4, dan meminta mereka memanggil teman-temannya untuk berkumpul. 5 menit kemudian, belasan siswa sudah berkumpul di lapangan. “Anak-anak sayang, ngoni (kalian) masih ingat toh lagu dan gerakan Terima Kasih Guru? Ayo siap-siap, sebentar lagi ngoni menyanyikan lagu itu untuk para guru dan orang tua murid. Kitorang (kita) latihan dulu ya.” Serentak mereka bersorak kompak.

Akhirnya acara pertemuan orang tua murid dimulai. Pak Anwar bertindak sebagai moderator, membuka pertemuan. Berikutnya Pak Ramli memberikan sambutan menggantikan Ibu Kepala Sekolah yang pagi itu dipanggil ke ibu kota kabupaten oleh Dinas Pendidikan. Aku bisa melihat Pak Ramli memberikan pengarahan dengan berapi-api mengenai kondisi sekolah dan siswa secara umum yang masih kesulitan dalam pelajaran. Setelah itu Pak Hajuan melanjutkan memberikan sambutan dari perwakilan komite sekolah.

Kemudian Pak Anwar mempersilahkanku untuk memberikan sambutan. Itulah kali pertama aku berkenalan secara resmi dengan warga SDN Indong. Berpuluh pasang mata menyelidik, menunggu seperti apakah guru baru dari Jawa ini. Aku memulai sambutan dengan meminta para orang tua murid mengikuti yel-yel. “Kalau torang (saya) bilang ‘Halo’, ngoni jawab ‘Hai’, kalau torang bilang ‘Hai’, ngoni jawab ‘Halo’, bisa kan bapak ibu? Mari kitorang coba!” Ruangan itu menjadi riuh oleh yel-yel Halo dan Hai. Sinyal itu biasa aku berikan pada anak-anak di kelas. Aku minta mereka melakukannya untuk mencairkan suasana serius setelah pemaparan dari Pak Ramli dan Pak Hajuan.

Setelah itu aku memperkenalkan diri. Siapakah aku, untuk apa aku di desa Indong, apa yang akan dilakukan di sini dan apa harapanku selama satu tahun mendatang. Pemaparan singkat itu berhasil membangun ketertarikan dan antusiasme para orang tua. Aku bisa melihat mereka mengangguk-angguk setuju ketika aku menjelaskan sedikit mengenai konsep pendidikan yang aku pelajari dari Pak Munif Chatib.

“Tidak ada anak pambodo. Semua anak pintar. Hanya saja, tiap anak beda pintarnya. Ada anak yang setelah baca buku langsung hafal. Ada anak yang pintar matematika, baru dijelaskan perkalian langsung bisa. Tapi ada anak yang pintarnya main bola, atau betobo di jembatan (berenang di dermaga). Itu namanya pintar dalam bidang olahraga, gerak atau kinestetis.” Mereka sepertinya senang karena anak mereka dibilang pintar. Sebuah kata yang jarang diungkapkan pada para anak-anak, bahkan oleh orang tuanya sendiri.

Setelah sambutan dariku, kemudian Pak Anwar mempersilahkan paduan suara kelas 4 untuk memulai persembahan. Aku segera memanggil anak-anak untuk masuk ke ruangan, dan mempersiapkan laptop dan speaker untuk suara latar.

Sebelum dimulai, aku memanggil mereka keras-keras “Penjaga Kelas.!?” Serentak mereka menjawab “Siap..!!” Penjaga kelas adalah sebutan yang kuberikan pada mereka supaya semua anak bersemangat untuk menjaga kebersihan dan ketertiban di kelas.

“Pagiku cerahku, matahari bersinar

Kugendong tas merahku, di pundak…”

Ketika lagu dimulai, anak-anak sudah bergerak kanan kiri, mengangkat tangan, dan memutarkan badan seraya menyanyikan lagu Terima Kasih Guru dengan khidmat.

Selain senyum yang dilontarkan anak-anak, baik yang bernyanyi atau menonton, aku bisa melihat senyum sumringah para orang tua. Mereka seperti jarang sekali melihat anak-anaknya menyanyikan lagu dengan gerakan sederhana itu. Beberapa orang tua siswa bahkan menepuk-nepukkan tangannya mengikuti irama lagu. Seluruh ruangan bersorak sorai bertepuk tangan ketika anak-anak selesai menyanyikan lagu. Oh, sungguh bahagianya momen itu.

Setelah pertunjukkan, mereka keluar ruangan, dan acara pembagian rapor dilanjutkan. Setelah pemaparan guru kelas 3, aku menyelinap keluar kelas untuk menemui paduan suara. Di luar, aku bisa melihat binar mata bangga atas keberhasilan mereka tampil di depan guru dan orang tua murid. “Selamat anak-anak, luar biasa! Superman Woosh untuk kalian semua!”

Superman Woosh adalah bentuk apresiasi yang biasa kuberikan dalam kelas. Bentuknya teput tangan 3 kali, diikuti gerakan superman terbang dengan suara “Tetereteteeet! Woosh!” Dalam tasku, aku sudah menyiapkan sebungkus permen untuk para Laskar Penyanyi itu, mereka terima dengan senang hati.

Pertunjukkan itu adalah highlight dari acara pembagian rapor. Di dalam rapor, tiap siswa bisa melihat nilai yang beraneka ragam, hitam dan merah, tapi nilai tersebut tidak bisa benar-benar memperlihatkan perkembangan apa yang siswa alami dalam 1 semester. Tetapi dengan kekompakkan Laskar Penyanyi menyanyikan dan menarikan lagu, para orang tua murid dapat melihat anak-anaknya berhasil belajar kekompakan dan kepercayaan diri. Sebelumnya anak-anak tidak pernah menampilkan pertunjukkan seperti ini. Semoga pertunjukkan ini bisa memberikan suntikan semangat untuk para orang tua murid dalam memberikan apresiasi dan bimbingan pada anak-anaknya di rumah. Amin.

*salam hangat dari desa Indong*

PS. Jangan lupa beli kue ya pak

14 Jan

Setelah musim ujian berakhir, aku dan sembilan teman pengajar muda lainnya telah bersepakat untuk berkumpul di Labuha, ibu kota kabupaten Halmahera Selatan. Kami berencana untuk mengadakan roadshow keliling 10 SMA di Labuha. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi dan motivasi bagi siswa kelas 3 SMA untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Dikarenakan jumlah SMA yang cukup banyak dan berjauhan, kami menjadwalkan roadshow ini selama 3 hari.

Hari Jumat, sehari sebelum keberangkatan, aku bersama siswa kelas 4 membahas soal-soal ujian akhir semester yang telah selesai dilaksanakan minggu itu, lalu membagikan tugas menggambar. Aku membagi mereka menjadi 8 kelompok dan meminta mereka untuk menggambar di atas kertas Manila yang cukup besar. Maklum, hasil prakarya mereka ini juga akan menjadi penghias kelas sekaligus penutup dinding kelas yang sudah bolong.

Di akhir kelas, aku mengumumkan rencana kepergianku itu. “Anak-anak, ngoni su tau toh (kalian sudah tahu kan) kalau minggu depan ada ekskul (semacam class meeting)? Bapak pu (punya) rencana pergi ke Labuha 1 minggu. Selama itu, bapak minta ngoni tetap kerjakan tugas menggambar dengan baik, dan belajar untuk ulangan susulan minggu depan. Nanti Bu Fadlia (Guru kelas 3) akan bapak minta tolong mengawasi. Bisa semua?”

Tak biasanya, pertanyaanku itu tidak disambar dengan teriakan “Bisa pak!”, tapi malah disambut dengan saling tatap-menatap dan berbisik-bisik. Ahirnya salah satu murid bertanya, “kapan bapak pulang?” “Hari Kamis atau Sabtu,” jawabku. Kembali mereka berbisik-bisik lagi. Saat itu aku tak tahu apa maksud dari tingkah mereka.

….

Sorenya seperti biasa aku sedang beristirahat sejenak di kamar dan beberapa anak-anak ada di ruang tengah membaca buku. Tiba-tiba aku merasa mendengar namaku dipanggil-panggil. Aku bertanya dari dalam, “ada apa sayang?” Tapi yang terdengar hanya cekikikan tawa. “Pak Adi,” namaku dipanggil lagi. Aku beranjak keluar kamar untuk melihat ada apa gerangan. Hanya ada Awin, anak kelas 4 yang ada di ruang tamu. “Ama dan Anna yang panggil tadi pak, dorang (mereka) su lari,” jelas Awin sambil menunjuk ke luar.

Hal seperti ini sudah sering terjadi, biasanya mereka malu untuk bertanya atau meminta sesuatu. Aku kemudian ke luar pintu rumah dan melihat kanan kiri, “Ama, Anna, kemari sayang.” Malu-malu akhirnya mereka kembali ke rumah. Ternyata tidak hanya mereka berdua, ada juga Alma, Indri, Eda, Tika, Wati dan beberapa siswi kelas 4 lainnya.
Satu persatu mereka memberikan sepucuk amplop putih. “Apa ini sayang?” tanyaku. Mereka diam saja sambil tersipu malu, saling bersembunyi di balik pundak temannya. “Untuk bapak?” tanyaku lagi. “Iya pak,” jawab mereka kompak. Aku melihat tulisan di atas amplop.

Untuk Pak Adi

Yang buat Anna

Aku tersenyum. Aku bersiap untuk membukanya ketika Alma tiba-tiba berseru, “jangan dibuka sekarang Pak, nanti saja di Labuha!” Anak-anak lain pun ikut-ikutan mengiyakan. Aku melihat mereka tersipu malu. Oh Tuhan, lucu sekali tingkah mereka. Demi menghargai niat mereka, aku berjanji tidak akan membuka surat mereka sampai tiba di Labuha. “Ya sudah, Bapak tara (tidak) buka sampai di Labuha, sekarang kalian masuk rumah, baca buku ya,” kataku. “Iya pak!” Jawab mereka kompak.

Seperti hari biasanya, mereka kemudian membaca buku di ruang tengah, sedangkan aku masuk ke dalam kamar. Aku letakkan semua surat di atas meja. Lalu aku perhatikan ada yang berbeda di tumpukan kardus di pojok dekat pintu. Ada robekan kertas buku tulis dengan tulisan warna warni. “Sejak kapan kertas-kertas itu ada di sana?” pikirku. Aku ambil kertas-kertas tersebut. Tulisan di atas kertas agak sulit dibaca, semuanya ditulis dengan crayon.

Pak Adi mau ke labuha jangan lama-lama nanti kita sedih

Kira-kira itu isi dari kertas-kertas tersebut. Aku terduduk di kasur. Aku tersenyum. “Kapan mereka membuatnya ya? Kapan mereka meletakkannya di kamar?” Guratan crayon mereka benar-benar mencuri hatiku.

….

Esoknya, di rumah Ummi Poni di Labuha, aku membuka surat-surat yang dibuat oleh anak-anak kelas 4.

Untuk Pak Adi

Besok pak adi mau ke labuha
Jangan lama-lama nanti kita jadi sedih
Kalau pak adi pulang jangan lupa bawa kue
Kalau tidak nanti kita cubit

Dari Anna

Segera kumasukkan 38 kue dalam daftar belanjaanku untuk anak-anakku tercinta. 